veganojustice

Dalam pembenahan….

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang

Uji tetrazolium juga disebut uji biokhemis benih dan uji cepat viabilitas.  Disebut uji biokhemis karena uji tetrazolium mendeteksi adanya proses biokimia yang berlangsung di dalam sel-sel benih khususnya sel-sel embrio.  Disebut uji cepat viabilitas karena indiksi yang diperoleh dari pengujian tetrazolium bukan berupa perwujudan kecambah, melainkan pola-pola pewarnaan pada embrio, sehingga waktu yang diperlukan untuk pengujian tetrazolium tidak sepanjang waktu yang diperlukan untuk pengujian yang indikasinya berupa kecambah.Pengujian tetrazolium menggunakan zat indikator 2.3.5 Trifenil tetrazolium

Klorida/bromida yang larut dalam air untuk mengindikasi adanya sel-sel yang hidup.  Bila indikator diimbibisi oleh benih kedalam sel-sel benih yang hidup dengan bantuan enzim dehidrogenase akan terjadi proses reduksi sehingga terbentuk zat trifenil formazan, endapan  yang berwarna merah.  Pada sel-sel yang mati tidak terjadi reduksi, sehingga warnanya tetap.  Adanya pola-pola warna merah pada bagian-bagian penting pada embrio benih mengindikasikan benih mampu menumbuhkan embrio menjadi kecambah yang normal.

Kegunaan uji tetrazolium cukup banyak : untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam,  untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih.  Uji tetrazolium sebagai uji vigor bisa dilakukan, dengan cara membuat penilaian benih lebih ketat untuk katagori benih vigor diantar benih viabel.

1.2      Tujuan

  •  


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Dormansi

  • Dormansi merupakan cara embrio biji mempertahankan diri dari keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya proses perkecambahan.

(Redaksi AgroMedia.

  • Ø  Dormancy is a seed event is not active rest or activity of growth, usually during the dry season due to water shortages.

Dormansi adalah peristiwa istirahat atau biji tidak aktif melakukan aktivitas pertumbuhan, biasanya pada musim kemarau karena kekurangan air.

(Gunawan Susilowarno,dkk.

  • Dormancy is a resting phase of a plant organ that has the potential to grow actively, because it has the meristem tissue.

Dormansi merupakan fase istirahat dari suatu organ tanaman yang mempunyai potensi untuk tumbuh aktif, karena mempunyai jaringan meristem.

…….

2.2 Definisi Uji Tetrazolium

…….

 

2.3 Macam Dormansi

Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.

  • Ø Berdasarkan faktor penyebab dormansi
    • Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan
    • Imnate dormancy (rest): dormancy yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ biji itu sendiri
    • Ø Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji
    • Mekanisme fisik

Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri; terbagi menjadi:

- mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik

- fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel

- kimia: bagian biji/buah mengandung zat kimia penghambat

  • Mekanisme fisiologis

Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis; terbagi menjadi:

- photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya

- immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang

- thermodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu

  • Ø Berdasarkan bentuk dormansi
  • Kulit biji impermeabel terhadap air/O2

Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp

Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.

Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.

Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.

Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.

  • Embrio belum masak (immature embryo)

Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misal: Gnetum gnemon (melinjo)

Embrio belum terdiferensiasi

Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih butuh waktu

 

…….

 

2.4 Macam Perlakuan Pemecahan Dormansi

Dormansi dapat diatasi dengan perlakuan – perlakuan ; pemarutan atau penggoresan (skarifikasi) yaitu dengan cara menghaluskan kulit benih ataupun menggores kulit benih agar dapat dilalui air dan udara ; melemaskan kulit benih dari sifat kerasnya ; memasukkan benih ke dalam botol yang disumbat dan secara periodik mengguncang – guncangnya ; stratifikasi terhadap benih dengan suhu rendah ataupun suhu tinggi ; perubahan suhu ; dann zat kimia.

(Kartasapoetra, 2003).

Pada pematahan dormansi dapat diganti oleh zat kimia seperti KNO3, thiorea dan asam giberalin. Pada kenyataannya, pada organ secara visual disebut dormansi, sesungguhnya masih berlangsung perubahan – perubahan biokimia dan struktur mikroskopiknya.

( Pandey and Sinha, 1992).

Mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.

Tipe Dormansi

Metode Pematahan Dormansi

Alami

Buatan

Immature embryo Pematangan secara alami setelah biji disebarkan Melanjutkan proses fisiologis pemasakan embryo setelah biji mencapai masa lewat-masak (after-ripening)
Dormansi mekanis Dekomposisi bertahap pada struktur yang keras Peretakan mekanis
Dormansi fisis Fluktuasi suhu Skarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia
Dormansi chemis Pencucian (leaching) oleh air, dekomposisi bertahap pada jaringan buah Menghilangkan jaringan buah dan mencuci bijinya dengan air
Fotodormansi Pencahayaan Pencahayaan
Thermodormansi
  • Penempatan pada suhu rendah di musim dingin
  • Pembakaran
  • Pemberian suhu yang berfluktuasi

  • Stratifikasi atau pemberian perlakuan suhu rendah
  • Pemberian suhu tinggi
  • Pemberian suhu berfluktuasi

 

Hartmann .1997)

2.5 Prinsip Metode TTZ

Prinsip metode TZ adalah bahwa setiap sel hidup akan berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi .Kelebihan metode TZ meliputi waktu pengujian yang singkat, sangat tepat diaplikasikan pada benih yang mengalami dormansi serta benih yang mengalami pemasakan lanjutan (after ripening), tingkat ketelitian tinggi, sedangkan kelemahannya memerlukan keahlian dan pelatihan yang intensif, bersifat laboratoris, tidak dapat mendeteksi kerusakan akibat fungi atau mikroba lainnya dan bersifat merusak.

(Byrd, 1988).

2.6 Kategori Benih Viabel dan Non Viabel dalam Uji TTZ

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam uji TZ adalah evaluasi pola topografi perwarnaan untuk menentukan benih viable dan non-viable.Paradigma ini diterima karena definisi viable (hidup) diartikan hanya sebagai kemampuan benih tersebut untuk berkecambah, dan tidak menjadi soal apakah berkecambah secara normal atau abnormal. Dengan paradigma demikian, maka hasil uji TZ tidak diperkenankan menjadi data yang dicantumkan di label benih karena akan memberikan kesalahan positif (yaitu persentase benih viable yang lebih tinggi dibandingkan persentase daya berkecambah). Akan tetapi, apabila ditelusuri dari berbagai literatur internasional, maka akan diperoleh suatu kesimpulan bahwa paradigm tersebut di atas kurang tepat. ISTA sebagai organisasi pengujian benih internasional yang diakui kredibilitas dan metodenya digunakan di seluruh dunia mendefinisikan benih viable benih yang memperlihatkan potensi untuk menjadi kecambah normal, sedangkan benih non-viable adalah terdiri dari benih yang berkembang secara abnormal baik pada embrio maupun pada struktur penting lainnya dan menunjukkan jaringan yang mati

(ISTA 2008).


 

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

3.2 Alur Kerja (diagram alir)

k


 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1      Hasil Pemecahan Dormansi (dalam table)

4.1.2      Dokumentasi Pemecahan Dormansi

4.1.3      Hasil Uji TTZ (dalam table)

4.1.4      Dokumentasi Uji TTZ

4.2 Pembahasan

4.2.1      Perbandingan Perlakuan Skarifikasi (literature)

4.2.2      Perbandingan Perlakuan Stratifikasi (literature)

4.2.3      Uji TTZ (literature)

k


 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

  •  


 

DAFTAR PUSTAKA

Bradbeer, J.W. 1989. Seed Dormancy and Germination. Chapman & Hall, New York. 146p.

 

Byrd, H.W. 1988. Pedoman Teknologi Benih (Terjemahan). State College. Mississipi.

 

Gunawan Susilowarno,dkk. Biologi SMA/MA XII.  Grasindo.

 

Ilyas, S. dan W.T. Diarni. 2007. Persistensi dan Pematahan Dormansi Benih. Jurnal Agrista 11 (2): 92-101.

 

ISTA.2008

 

Kartasapoetra, A. G. 2003. Teknologi Benih ( Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum) . PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

 

Pandey, S. N and Sinha, B. K. 1992. Plant Physiology. Vikas Publishing House
PVT LTD. India

 

Redaksi AgroMedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyaka Tanaman. Agromedia Pustaka.Jakarta

 

Salisbury, F.b dan Ross, C.W.1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 1 edisi IV alih bahasa Luqman, RR dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung.

 

Sutopo, L. 1998. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

 

Wilkins, B Malcomn Alih bahasa Sutedjo Mul Mulyadi & Kartasaputro, 1969. Fisiologi Tanaman., Bina Aksaea: Jakarta.

HAMA

PADI
1. Nama Spesies Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)
Gambar tangan
Identifikasi Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro)
Gejala kerusakan Ciri ciri tanaman padi yang diserang hama wereng batang cokelat adalah warnanya berubah menjadi kekuningan, pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Pada serangan yang parah keseluruhan tanaman padi menjadi kering dan mati, perkembangan akar merana dan bagian bawah tanaman yang terserang menjadi terlapisi oleh jamur.
2. Nama Spesies Kepik hijau (Nezara viridula)
Gambar tangan
Identifikasi Menyerang batang dan buah padi
Gejala kerusakan Pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan
pertumbuhan tanaman terganggu.
3. Nama Spesies Walang sangit (Leptocorisa acuta)
Gambar tangan
Identifikasi Menyerang buah padi yang masak susu.
Gejala kerusakan Menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Jagung
1. Nama Spesies Lalat bibit (Atherigona exigua)
Gambar tangan
Identifikasi Lalat berwarna abu-abu, panjang 3-3,5 mm, punggungnya berwarna kuning kehijauan dengan tiga buah garis. Bagian perut berwarna coklat kekuningan.
Gejala kerusakan daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati.
2. Nama Spesies Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guen )
Gambar tangan
Identifikasi Telur diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari.
Gejala kerusakan bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.
Cabai
1. Nama Spesies Thrips/kemreki (Thrips parvispinus)
Gambar tangan
Identifikasi Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam.
Gejala kerusakan Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas.
2. Nama Spesies Kutu daun kapas (Aphis gossypi)
Gambar tangan
Identifikasi Sewaktu muda kutu ini berwarna putih, kemudian dewasa menjadi hijau kehitaman. Hama ini mengisap cairan tanaman.
Gejala kerusakan Daun yang terserang berubah keriput. Pertumbuhan terhambat dan kalau dibiarkan tanaman bisa mati.Kutu dewasa membentuk sayap dan terbang ke tempat lain. Kutu ini menghasilkan embun jelaga berwarna hitam yang mengganggu proses fotosintesis, juga menjadi perantara penyebaran virus
Bawang Merah
Nama Spesies Hama ulat bawang (Spodoptera spp).
Gambar tangan
Identifikasi
Gejala kerusakan ditandai dengan bercak putih transparan pada daun.
2. Nama Spesies Hama trip (Thrips sp.)
Gambar tangan
Identifikasi Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam.
Gejala kerusakan Gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun.

PENYAKIT

PADI
1. Nama penyakit Bercak cokelat sempit
Nama patogen cendawan Cescopora oryzae
Gambar makro+mikro
Gejala Di daun dan pelepah daun terdapat bercak cokelat yag sempit seperti garis-garis pendek. Pada varietas yang tahan bercak berukuran 0,2-1 cm x 0,1 cm, berwarna cokelat gelap. Pada varietas yang rentan, bercaknya lebih besar dan berwarna cokelat terang.
Daur penyakit
2. Nama penyakit

Bercak pelepah daun

Nama patogen cendawan Rhizoctonia solani dan R. Oryzae
Gambar makro+mikro
Gejala Bercak terutama terdapat di seludang daun. Bercak berbentuk bulat lonjong, berwarna kelabu kehijau-hijauan yang kemudian menjadi putih kelabu dengan pinggiran cokelat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang 2-3 cm.
Daur penyakit
3. Nama penyakit

Bercak garis

Nama patogen Xanthomonas camprestris pv oryzicola.
Gambar makro+mikro
Gejala Garis-garis yang kebasahan muncul diantara urat-urat daun setelah pemindahan bibit. Garis-garis tersebut tampak tembus cahaya bila dilihat dengan menantang sumber cahaya. Garis-garis itu kemudian memanjang dan berubah menjadi cokelat dengan lingkaran kuning di sekelilingnya.
Daur penyakit
Jagung
1. Nama penyakit Penyakit bulai (Downy mildew)
Nama patogen cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis,
Gambar makro+mikro
Gejala umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
Daur penyakit
2. Nama penyakit Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Nama patogen cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC
Gambar makro+mikro
Gejala masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar.
Daur penyakit
3. Nama penyakit Penyakit karat (Rust)
Nama patogen cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw.
Gambar makro+mikro
Gejala pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang.
Daur penyakit
Cabai
Nama penyakit Layu
Nama patogen cendawan Sclerotium rolfii Sacc.
Gambar makro+mikro
Gejala Layu tanaman secara tiba-tiba, daun berwarna kuning kemudian menjadi cokelat.
Daur penyakit
2. Nama penyakit

Busuk Buah

Nama patogen Cendawan Coletroticum sp
Gambar makro+mikro
Gejala Bercak coklat pada buah. Awalnya bercakpada buah kecil la.ma kelamaan semakin membesar
Daur penyakit
Bawang Merah
1. Nama penyakit Antraknose
Nama patogen jamur Colletotricum gloesporiodes
Gambar makro+mikro
Gejala bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai.
Daur penyakit
2. Nama penyakit layu Fusarium
Nama patogen
Gambar makro+mikro
Gejala ditandai dengan daun menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. Jika ditemukan gejala demikian, tanaman dicabut dan dimusnahkan.
Daur penyakit

Dalam Pembenahan….

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif.

Perbanyakan vegetatif, mempunyai pengertian perbanyakan tanaman dengan menggunakan organ vegetatif tanaman seperti batang yang mempunyai tunas samping (aksilar/lateral) dan mata tunas dari induk yang terpilih.  Induk terpilih misal mempunyai warna dan corak bunga yang indah dan belum pernah ada, warna daun bervariasi.   Kemudian teknik memperbanyak tanaman tersebut dengan cara stek batang, cangkok, sambung (grafting) dan okulasi.

Hasil akhir dari perbanyakan vegetatif ini adalah bibit atau tanaman yang sama dengan induk yang terpilih yang telah dicontohkan di atas atau diistilahkan dengan fotocopy atau true to type.

Pemilihan perbanyakan di atas tentunya juga terkait dengan tujuannya, apabila menghendaki tanaman yang mempunyai variasi/ keragaman sifat/karakter lain dari normalnya, maka perbanyakan generatif yang dipilih.  Apabila menginginkan tanaman hias yang mempunyai kesamaan dengan induk yang terpilih, maka perbanyakan vegetatif yang dipilih.

Perbanyakan vegetatif diperlukan untuk tanaman dan kultivar yang tidak menghasilkan biji secara teratur atau tidak bisa menghasilkan biji.

 

1.2  Tujuan

  • Mengetahui pengertian perbanyakan vegetatif alami dan buatan
  • Memahami dan mempraktekan cara dari macam-macam perbanyakan vegetatif alami dan buatan
  • Mempelajari dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi

perbanyakan vegetatif alami dan buatan


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perbanyakan Vegetatif Alami

            2.1.1 Pengertian Perbanyakan Vegetatif Alami

  • Perbanyakan vegetatif dimana mengambil bahan tanam dari organ tubuh tanaman induk yang merupakan hasil pertumbuhan tanaman (bagian generatif) dan sifat dari keturunannya pasti sama dengan induknya.

(Abdurahman,Deden.2008)

  • Perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji tanaman induk yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia.

(Rahardja & Wiryanta.2003)

  • Plant propagation using vegetative organs such as stems that have a side shoots (axillary / lateral) and buds from the selected parent.

(Perbanyakan tanaman dengan menggunakan organ vegetatif tanaman seperti batang yang mempunyai tunas samping (aksilar/lateral) dan mata tunas dari induk yang terpilih.)

(Hartmann et al.1997)

 

            2.1.2 Macam Perbanyakan Vegetatif Alami (PENGERTIAN DAN CONTOH )

  • Tunas adventif
    • cocor bebek.
    • kesemek,
    • kersen,
    •  ,cemara
    • dan sukun.
    • Pembentukan tunas
      • pakis haji (cycas rumphii),
      • bamboo(bambusa sp),
      • pisang (musa paradisiaca),
      • nanas,
      • palem,
      • Umbi lapis
        • bawang merah (allium cepa),
        • bawang putih (allium sativum),
        • bawang daun (allium fistulosum),
        • bunga bakung (crinum asiaticum), dan
        •  bunga tulip
        • Umbi batang
          • kentang (solanum tuberrodum),
          • ubi jalar(ipomoea batatas),
          • caladium
          • gadung (dioscorea hispida), dan
          • gambili (dioscorea aculata)
          • Rhizome
            • lengkuas (alpina officinarum),
            • jahe (zingiber officinale),
            • kunyit ( curcuma domestica),
            • temulawak, dan
            • lidah mertua (sansivera sp)
          • Stolon
            • rumput teki(cyperus rotundus)
            • rumput gajah
            • stroberi
            • arbei
            • dan rumput pantai (spinifex sp)

STOP

 (Ashari.1995)

 

           


 

2.1.3 Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Alami

1. Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti

2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.

3. Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.

4. Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.

(Rochiman.1973)

 

2.2 Perbanyakan Vegetatif Buatan

2.2.1 Pengertian Perbanyakan Vegetatif Buatan

  • Perbanyakan tanaman secara buatan dengan campur tangan manusia.

(Suwanto.2007)

  • Sekumpulan teknik untuk menghasilkan individu baru tanpa melalui perkawinan dengan bantuan manusia.

(Pahan.2006)

  • Way through vegetative reproduction (without mating), which does not occur naturally but was made or occurred accidentally by humans.

(Cara reproduksi secara vegetatif (tanpa kawin) yang tidak terjadi secara alami melainkan dibuat atau disengaja terjadi oleh manusia)

(Anonymous.2011)

 

            2.2.2 Macam Perbanyakan Vegetatif Buatan (PENGERTIAN DAN CONTOH)

  • Cangkok
    • jambu
    • sawo
    • rambutan
    • mangga
    • jeruk
    • Okulasi
      • mangga,
      • Ø  karet
      • lengkeng
      •  durian, dan
      • rambutan.

 

  • Runduk
    • anyelir
    • tanaman apel
    • alamanda
    • durian dan
    • singkong.
    • Stek
      • teh
      • ubi kayu
      • tebu
      • tanaman pagar
      • sirih
      • Sambung
        • Manggis
        • Kopi
        • Kakao
        • Keluwih
        • Mangga

 

 

(Zaubin.2003)

 

            2.2.3 Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Buatan

Faktor Intern :

  1. dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
  2. ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)

Faktor Ekstern:

  1. suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
  2. kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
  3. cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
  4. jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)

 

(Anonim.1992)

 

 


 

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi

  • Alat

ü  Curter/pisau

ü  Plastik

ü   

  • Bahan

ü  Tanaman jeruk

3.2 Langkah Kerja

       3.2.1 Perbanyakan vegetative Alami (anakan,umbi batang, stolon)

       3.2.2 Perbanyakan vegetative Buatan

              a. Grafting

 

  b. Okulasi

  1. Memilih bibit dari biji yang sudah berumur 6-8 bulan sebagai batang bawah.
  2. “Jendela” okulasi dibuat pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan ukuran jendela 1 cm x 5 cm
  3. Mata entres yang akan digunakan sebagai batang atas dipilih dari tunas cabang yang sehat.
  4. Ukuran mata entres yang telah diambil dari cabang entres dibuat lebih kecil dari ukuran “jendela” okulasi.
  5. Kemudian mata entres ditempelkan atau dimasukkan didalam jendela, diikat rapat dengan menggunakan tali rafia atau plastik.
  6. Periksalah okulasi 2-3 minggu kemudian.Okulasi berhasil tumbuh bila warna tunas tetap hijau. Bila berwarna cokelat berarti okulasi gagal.

 

  c. Stek

 

1.      Stek ini diambil dari batang atau cabang pohon induk yang akan kita perbanyak dan pilih batang yang tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda

2.      Gunting stek yang digunakan harus tajam agar bekas potongan rapi. Bila kurang tajam batang bisa rusak atau memar.

3.      Pada saat mengambil stek batang, pohon induk harus dalam keadaan sehat dan tidak sedang bertunas.

4.      Yang dijadikan stek biasanya adalah bagian pangkal dari cabang. Pemotongan cabang diatur kira-kira 0.5 cm di bawah mata tunas yang paling bawah dan untuk ujung bagian atas sejauh 1 cm dari mata tunas yang paling atas.

5.       Kondisi daun pada cabang yang hendak diambil sebaiknya berwarna hijau tua. Dengan demikian seluruh daun dapat melakukan fotosintesis yang akan menghasilkan zat makanan dan karbohidrat. Nantinya zat ini akan disimpan dalam organ penyimpanan antara lain di batang. Karbohidrat pada batang ini penting sebagai sumber energi yang dibutuhkan pada waktu pembentukan akar baru.

6.      Ukuran besar cabang yang diambil cukup sebesar kelingking. Diameter sekitar 1 cm dengan panjang antara 10-15 cm. Cabang tersebut memiliki 3-4 mata tunas.

7.       Kondisi batang pada saat pengambilan berada dalam keadaan setengah tua dengan warna kulit batang biasanya coklat muda

 

 

 

 


 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

      4.1.1 Perbanyakan Vegeatif Alami (sesuai tabel pengamatan)

 

      4.1.2 Perbanyakan Vegetatif Buatan (sesuai tabel pengamatan)

 

 

4.2 Pembahasan

       4.2.1 Perbanyakan Vegeatif Alami

  1. a.    Anakan

Pada praktikum ini tanaman yang digunakan adalah kentang

 

  1. b.   umbi batang

Pada praktikum ini tanaman yang digunakan adalah kentang

 

  1. c.    stolon

Pada praktikum ini tanaman yang digunakan adalah stroberi

 

Menurut Redaksi (2007),

      4.1.1 Perbanyakan Vegeatif Buatan

a. Grafting

Pada Percobaan perbanyakan dengan cara  grafting mengalami kegagalan, yaitu mata entres berwarna coklat dan kering

Menurut Redaksi (2007),faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan grafting,yaitu:

ü  Faktor Tanaman
Kesehatan batang bawah yang akan digunakan sebagai bahan perbanyakan perlu diperhatikan. Pada batang bawah yang kurang sehat, proses pembentukan kambium pada bagian yang dilukai sering terhambat. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilan penyambungan. Batang bawah berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga pemilihan tanaman yang digunakan sebagai batang bawah sama pentingnya dengan pemilihan varietas yang akan digunakan sebagai batang atas.
Berhasilnya pertemuan entres dan batang bawah bukanlah jaminan adanya kompatibilitas pada tanaman hasil sambungan. Sering terjadi perubahan pada entres maupun pada tanaman hasil sambungan, misalnya pembengkakan pada sambungan, pertumbuhan entres yang abnormal atau penyimpanan pertumbuhan lainnya, dimana keadaan ini disebut inkompatibel. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan struktur antara batang atas dan batang bawah atau ketidakserasian bentuk potongan pada sambungan.Sedangkan batang yang mampu menyokong pertautan dengan baik dan serasi disebut kompatibel.

ü  Faktor Pelaksanaan
Faktor pelaksanaan memegang peranan penting dalam penyambungan. Kecepatan penyambungan merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi penyakit. Pemotongan yang bergelombang dan tidak sama pada permukaan masing-masing batang yang disambungkan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.
Kehalusan bentuk sayatan dari suatu bagian dengan bagian lain sangat penting untuk mendapatkan kesesuaian posisi persentuhan kambium. Ukuran batang bawah dengan batang atas hampir sama sangat diharapkan agar persentuhan kambium sangat banyak terjadi. Apabila batang atas lebih kecil dari batang bawah, maka salah satu sisi kambium harus cepat. Cara penyambungan suatu tanaman keberhasilannya lebih banyak dibandingkan dengan metode lain. Disamping itu ketrampilan dan keahlian dalam pelaksanaan penyambungan maupun penempelan serta ketajaman alat-alat yang digunakan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan tersebut

ü  Faktor Lingkungan
Cahaya matahari sangat kuat akan berpengaruh terutama pada saat pelaksanaan penyambungan. Oleh karena itu penyambungan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari. Penyambungan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau. Selain untuk menghindari kebusukan, curah hujan pada musim kemarau batang sedang aktif mengalami pertumbuhan serta entres yang tersedia cukup masak.

 

  b. Okulasi

Pada Percobaan perbanyakan dengan cara okulasi mengalami kegagalan, yaitu daun pada tunas layu dan berwarna coklat.

Menurut Redaksi (2007),kegagalan ini bisa disebabkan oleh berbagai sebab, yaitu diantaranya karena pelaksanaan okulasi disiang hari, kurang telitinya dalam memilih cabang, media yang terlalu kering karena jarangnya dilakukan penyiraman dan tanaman langsung terkena sinar matahari yang kemudian berakibat pada kelayuan dan pada bagian okulasi daun berubah warna menjadi coklat, serta alat yang digunakan untuk okulasi kurang bersih. Seharusnya, perbanyakan secara okulasi ini disarankan penyiramannya cukup (media cukup basah). Tetapi hal tersebut bisa diatasi dengan menempel di tempat yang teduh, terhindar dari sinar matahari langsung. Kebersihan alat okulasi, silet yang akan digunakan langsung kita belah dua saat masih dalam bungkusan kertas, sehingga silet/cutter/pisau kerat  kita tetap dalam kondisi bersih dan tidak berkarat. Cabang untuk okulasi ini sebaiknya tidak berdaun (daunnya sudah rontok). Entres yang baik adalah yang cabangnya dalam keadaan tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu).Warna kulitnya coklat muda kehijauan atau abu-abu muda. Entres yanng diambil dari cabang yang terlalu tua pertumbuhannya lambat dan persentase keberhasilannya rendah. Besar diameter cabang untuk entres ini harus sebanding dengan besarnya batang bawahnya.

  c. Stek

Cara perbanyakan dengan metode stek juga mengalami kegagalan, hal ini kemungkinan disebabkan karena batang stek yang masih muda, temperatur yang terlalu tinggi, kurangnya ketersediaan air bagi batang yang telah distek.

Menurut Redaksi (2007),Pada dasarnya cara perbanyakam stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop. Plagiotrop ialah rantingranting yang tumbuh dari batang orthotrop, yang jumlahnya banyak sekali. Ranting-ranting ini pendek, agak kecil dan tak melekat pada tajar sebab masingmasing, bukunya tak berakar lekat. Pada setiap buku tumbuh sehelai daun yang berhadaphadapan, dan disinilah akan tumbuh malai bunga. Cabang plagiotrop ini tumbuhnya selalu ke samping (lateral), dan pada cabang plagiotrop ini masih bisa tumbuh ranting-ranting lagi. Inilah bagian-bagian yang selalu mengeluarkan malai bunga ataubuah,maka ia juga disebut cabang-cabang buah. ( tanaman yang masih bertahan. Kondisi batang pada saat pengambilan berada dalam keadaan muda dengan warna batang setengah hijau atau setengah tua dengan warna kulit batang biasanya coklat muda. Pada saat ini kandungan karbohidrat dan auxin (hormon) pada batang cukup memadai untuk menunjang terjadinya perakaran setek. Pada batang yang masih muda, kandungan karbohidrat rendah tetapi hormonnya cukup tinggi. Pada kasus ini hasil setekan tumbuh tunas terlebih dahulu. Padahal seharusnya setek yang baik harus tumbuh akar dulu. Oleh karena itu, pada setek yang batangnya muda memang akan sering terjadi kegagalan. Selain itu kegagalan dalam stek dapat terjadi karena gunting stek tidak tajam sehingga batang yang akan distek memar, Hal ini mengundang bibit penyakit masuk ke bagian yang memar, sehingga bisa membusukkan pangkal setek serta kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber, diantaranya adalah:

a.       Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam kondisi turgid.

b.       Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga 27°C.

c.       Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.

 

 

 

 


 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas yang sifatnya sama dengan induknya serta dapat memberi hasil secara cepat maka dapat dilakukan dengan cara perbanyakan secara vegetatif buatan. Namun perlu diperhatikan kondisi batang yang akan diperbanyak, perlakuan saat perbanyakan  serta perlu memperhatikan  kondisi lingkungan tumbuh sekitar

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman….

Anonymous.2011

 

 

 

Rahardja…..

Redaksi…

 

Suwanto….

Prosiding seminar

 

Dala

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Ekstraksi diperlukan karena biasanya benih tidak dipanen secara langsung. Biasanya pengunduhan dilakukan terhadap buahnya. Dikenal dua macam ekstraksi benih yaitu ekstraksi kering yang dilakukan terhadap buah berbentuk polong (Acacia sp, Paraserianthes falcataria) dan jenis-jenis yang memiliki daging buah yang kering (Swietenia macrophylla), sedangkan ekstraksi basah dilakukan terhadap jenis-jenis yang memiliki daging buah yang basah seperti Gmelina arborea, Melia azedarach dan Azadirachta indica.

Pengeringan benih dimaksudkan untuk menurunkan kadar air sampai batas keseimbangan dengan udara luar disekitarnya dan siap untuk dilakukan proses selanjutnya.Benih bersifat hygroskopis, sehingga jika benih diletakan didalam ruangan dengan RH rendah, maka benih akan kehilangan air dan terjadi penurunan kadar air. Namun sebaliknya jika benih diletakan dalam ruangan yang RH tinggi, maka kadar air benih akan bertambah atau meningkat.Selain bersifat hygroskopis,benih juga selalu ingin berada dalam kondisi equilibrium (keseimbangan) dengan kondisi disekitarnya.Pengeringan benih merupakan proses perpindahan air dari dalam benih kepermukaan benih, dan kemudian air yang berada dipermukaan benih tersebut akan diuapkan jika RH ruangan lebih rendah. Proses ini akan terjadi hingga keseimbangan kadar air benih dengan RH lingkungannya tercapai..Pengeringan seringkali merupakan faktor yang sangat kritis pada tahap pengolahan benih terutama kalau musim penghujan.

1.2  TUJUAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ekstraksi Benih

  • Kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan benih dari buah.

(Kuswanto.2003)

  • Pemisahan biji dari daging buah, kulit benih, polong, kulit buah, malai, tongkol dan sebagainya dengan tujuan agar benih tersebut dapat digunakan untuk bahan tanam yang memenuhi persyaratan.

(Kamil. 1982)

  • Proses pengeluaran benih dari buah, polong, kerucut, kapsul atau bahan pembungkus benih lainnya

(Nurhayati.1997)

  • Activities out and clean the seeds from other parts of the fruit, such as stalks, skin and flesh of fruit.

Kegiatan mengeluarkan dan membersihkan benih dari bagian-bagian lain buah,       seperti tangkai, kulit dan daging buah.

(ISTA.1985)

  • Activities aimed at separating the seeds from the fruit (if the seed that is downloaded is still a seed that has other components of the fruit).

Kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan benih dari buah (apabila benih yang    diunduh masih merupakan benih yang memiliki komponen lain dari buah).

(AS & PM.,2000)

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi Benih

 

(Kamil, J, 1982)

 

2.3 Metode Ekstraksi Benih

  • Metode Basah

            Ekstraksi basah dilakukan terhadap jenis-jenis yang memiliki daging buah yang basah seperti Gmelina arborea, Melia azedarach dan Azadirachta indica.

  • Fermentasi

Benih yang telah dipisahkan dari daging buahnya, dimasukkan ke dalam wadah dan apabila perlu ditambah dengan sedikit air, wadah ditutup dan disimpan selama beberapa hari. Adapun wadah yang digunakan untuk fermentasi benih dipilih wadah yang tidak korosif terhadap asam, misalnya terbuat dari logam stainless steel, kayu ataupun plastic. Lama fermentasi tergantung pada tinggi rendahnya suhu selama fermentasi. Apabila fermentasi dilakukan pada temperature 240 C-270 C maka diperlukan waktu 1-2 hari., sedangkan apabila digunakan temperature 150 C-220C, dbutuhkan waktu 3-6 hari., tergantung pada jenis benih yang difermentasikan. Selama fermentasi bubur (pulp) perlu diaduk guna memisahkan benih dari massa pulp dan mencegah timbulnya cendawan. Setelah fermentasi selesai, bisanya benih akan tenggelam ke dasar wadah untuk memudahkan pemisahan benih dari massa pulp perlu ditambahkan air agar pulp menjadi encer. Setelah benih difermentasi benih dicuci dengan air bersih hingga semua zat penghambat hilang, yang ditandai dengan permukaan benih yang sudah tidak licin. Selanjutnya benih tersebut dikering anginkan pada suhu 310 C hingga diperoeh kadar air tertentu sesuai dengan peraturan yang aman bagi penyimpanan

(Pitojo, 2005).

  • Mekanis

Pada usaha skala besar, pemisahan benih dari daging buahnya akan kurang efisien jika menggunakan tenaga manual. Proses pembijian dilakukan dengan menggunakan mesin (seed extraction) yang dirancang untuk memisahkan dan membersihkan benih dari pulp yang mengandung inhibitor.

(Kamil, J, 1982)

  • Kimiawi

Menggunakan zat kimia misalnya HCL 35%, dengan dosis 5 liter HCL 35% dicampur dengan 100 liter air. Kemudian larutan HCL digunakan untuk merendam pulp. Setelah direndam dan diaduk selama 30 menit, massa pulp akan mengambang dipermukaan sehingga mudah dipisahkan dari benih yang tenggelam didasar wadah. Setelah dipisahkan benih dicuci dengan air hingga bekas pencuciannya bersifat netral (dapat dicek dengan menggunakan kertas lakmus).

(Kuswanto.2003)

            Pemisahan biji setelah fermentasi dapat dilaukan dengan menggunakan sodium karbonat 10% selama dua hari, namun cara tesebut jarang digunakan oleh perusahaan benih, pemisahan biji dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara cepat degan menggunakan HCL 1 N sebanyak 7-8 ml/l larutan, dibiarkan selama 1-2 jam. Namun jika tidak dilakukan secara tepat perlakuan dengan bahan kimia tersebut dapat menurunkan daya kecambah .

(Pitojo, 2005).

            Memanfaatkan kapur tohor sebagai bahan untuk ekstraksi basah menunjukkan bahwa pada konsentrasi kapur tohor 20 g/l dengan lama perendaman 30 menit memberikan potensi tumbuh terbaik (96%) untuk benih manggis. Manggis dan ketimun termasuk kedalam tipe buah berdagung dan berair sehingga diharapkan kapur tohor juga dapat dipalikasikan dalam ekstraksi benih ketimun. Adapun keuntungan dari penggunaan kapur tohor adalah prosesnya berjalan cepat, harganya murah 2000/kg dapat mencegah terjadinya pembusukan yang dapat mempengaruhi kualitas benih terutama viabilitasnya dan tidak menyebabkan perubahan warna.

(Murniati.1996)

  • Metode Kering

Ekstraksi kering yang dilakukan terhadap buah berbentuk polong (Acacia sp, Paraserianthes falcataria) dan jenis-jenis yang memiliki daging buah yang kering (Swietenia macrophylla) yang dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin.

(Kuswanto.1997)

2.4 Manfaat Ekstraksi Benih

  • Memisahkan benih dari buah
  • Memisahkan benih dari kotoran lainnya
  • Meningkatkan kemurnian benih.

(Sadjad.1975)

2.5 Tujuan Pengeringan

Mengurangi kadar air benih sampai batas aman terutama yang berada di daerah bersuhu dan kelembaban tinggi dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti.

(Sutopo. 2002)

2.6 Metode Pengeringan

Pengeringan benih dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Pengeringan dalam karung (bag driers)

Pengeringan benih dalam karung dilakukan bila benih yang

akan dikeringkan berasal dari banyak varietas atau bila volume

benih yang diproduksi kecil. Karung yang digunakan terbuat dari

bahan yute, sehingga dapat dilalui udara untuk proses

pengeringan.

  • Pengeringan dalam Kotak (box driers)

Pengeringan dalam kotak merupakan modifikasi dari bag driers dan metode yang paling lazim digunakan dalam pengeringan benih. Bahan box berupa bahan lokal yang dimasukan ke dalam wadah dari logam yang berlubang-lubang

atau kawat.

  • Bin driers

Dilakukan jika benih yang diperoleh berasal dari bulk dengan jumlah lebih dari 5 ton

  • Flat storage drying

Jika benih yang dihasilkan banyak dan hanya satu varietas saja

 

(Wahyu dan Asep.1995)

  • Pengeringan secara alami (natural drying)

Pengeringan ini dilakukan penjemuran dengan panas matahari secara langsung. Perlu penanganan aktif, untuk menghindari :
a. Pengaruh suhu yang tinggi
b. Pengeringan tidak merata
c. Kulit benih pecah-pecah.

  • Pengeringan buatan (artificial drying)
    Pengeringan ini dengan mesin atau alat dapat dilakukan, apabila :
    a. Mencapai maksud pengeringan sesuai yang diharapkan;
    b. Tercapai pengeringan tanpa tergantung pada kondisi cuaca;
    c. Kualitas benih terjaga.

Perlu penanganan aktif, untuk menghindari :
a. Pengaruh suhu yang tinggi
b. Pengeringan tidak merata
c. Kulit benih pecah-pecah.

(Kamil. 1982)

2.7 Manfaat Pengeringan

  • Meningkatkan daya simpan benih.
  • Mempertahankan viabilitas benih.
  • Menghasilkan benih berkualitas
  • Mempertahankan daya fisiologi benih.
  • Menambah nilai ekonomis.

(Sutopo. 2002)


BAB III

METODE

3.1 Alat, Bahan dan Fungsi

3.2 Langkah Kerja

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

            AS & PM.,2000. PVP Status: PVP Asia in balance. Asia Seed & Planting Material, 7 (3) : 18 – 19

ISTA, 1985. International Rules for Seed Testing: Rules 1985. Seed Science and Technology, 13 (2) : 299 – 355.

Kamil, J, 1982, Teknologi Benih I, Padang: Universitas Andalas

Kuswanto, Hendarto. 1997. Analisis Benih. Yogyakart:Andi

Kuswanto,Hendarto. 2003, Teknologi Pemprosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih. Yogyakarta: Kanisius

Murniati,E.1996. Informasi Hasil Penelitian Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap viabilitas benih kemiri (Aleurites moluccana Willd.). Keluarga Benih 7(1):59-65

Nurhayati, K. 1997. Pengaruh Ukuran dan Saat perkahan Buah Pada Proses Ekstraksi terhadap Perkecambahan dan Pertumbuahan Semai Khaya anthoteca C.DC. Skrpisi. Bogor. Jurusan Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Pitojo Setijo, 2005. Benih Kacang Tanah. Yogyakarta: Kanisius

Sadjad, Syamsoe’oed. 1975. Dasar-dasar Teknologi Benih. Bogor: IPB

Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Wahyu, C.M. dan Asep Setiawan. 1995. Produksi benih.Jakarta: Bumi Aksara

Masih dalam Pembenahan…

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian. Dalam pengujian kemurnian contoh kerja kemurnian dipisahkan menjadi benih murni, biji tanaman lain, dan kotoron .

Tujuan utama dari analisa kemurnian benih adalah untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih dan untuk mengidentifikasi dari berbagai species benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam suatu benih. Untuk analisa kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 4 komponen yaitu benih murni, benih species lain, benih gulma dan bahan lain atau kotoran.

1.2       Tujuan

  • Untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih
  • Untuk mengetahui persentasi masing-masing dari komposisi benih

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kemurnian Benih  1 indo+2 eng

  • Purity of seed is the percentage by weight of pure seeds contained in a seed sample

Kemurnian benih adalah merupakan persentase berdasarkan berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih

(Sutopo, 1984)

  • Purity of seed is composition based on the weight of seed samples to be tested or in other words the composition of the seed group and to identify the various species of seeds and other particles contained in a seed.

Kemurnian benih adalah merupakan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih dan untuk mengidentifikasi dari berbagai species benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam suatu benih.

 ()

  •  

()

2.2 Definisi Kadar Air 1 indo+2 eng

  • The water content is the amount of water contained in the material expressed in units of percent.

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen.

()

  • The water content is one of the physical properties of materials that show the amount of water contained in the material.

Kadar air merupakan salah satu sifat fisik dari bahan yang menunjukan banyaknya air yang terkandung di dalam bahan.

()

  •  

()

2.3 Kategori Benih dalam Kemurnian

a)   Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang diuji. Yang termasuk benih murni diantaranya adalah :

  • Benih masak utuh
  • Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak
  • Benihyang telah berkecambah sebelum diuji
  • Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud
  • Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali

b)   Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.

c)   Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:

  • Benih dan bagian benih
  • Benih tanpa kulit benih
  • Benih yang terlihat bukan benih sejati
  • Bijihampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal
  • Cangkang benih
  • Kulit benih

2.4 Metode Penentuan Bobot 1000 Butir

Tiap varietas tanaman menpunyai ukuran berat 1000 biji yang khusus, dengan demikian perhitungan berat 1000 biji ini hanya berlaku untuk biji-biji satu tanaman. Meskipun demikian variabilitas biji yang ada disebabkan oleh beberapa faktor luar antara lain sebagai berikut.
a. Keadaan cuaca
b. Intensitas sinar matahari
c. Masa kering yang terlalu panjang
d. Pemupukan
e. Letak biji pada tanaman
Untuk menyediakan benih perlu diperhatikan daya tumbuhnya, semakin rendah daya tumbuhnya maka semakin bayak biji yang diperlukan sebagai benih. Kebutuhab biji persatuan luas harus mempertimbangkan jarak tanam, isi tiap lubang, daya kecambah, berat 1000 biji dan kebutuhan benih untuk sulaman.Bobot 1.000 biji merupakan berat nisbah dari 1.000 butir benih yang dihasilkan oleh suatu jenis tanaman atau varietas. Salah satu aplikasi penggunaan bobot 1.000 biji adalah untuk menentukan kebutuhan benih dalam satu hektar. Penentuan benih dapat dilakukan dengan menetukan bobot 1000 biji. Dengan mengetahui biji yang besar atau berat berarti menandakan biji tersebut pada saat dipanen sudah dalam keadaan yang benar-benar masak, karena biji yang baik untuk ditanam atau dijadikan benih adalah biji yang benar-benar masak. Penggunaan bobot 1000 biji adalah untuk mencari bobot rata-rata yang dapat menyebabkan ukuran benih yang konstan dalam beberapa spesies karena penggunaan contohnya terlalu banyak, hal ini dapat menutupi variasi dalam tiap individu tumbuhan. Pada banyak spesies bobot benih merupakan salah satu ciri fenotip yang paling kurang fleksibel. Bobot 1000 biji padi dibedakan menjadi 3 kategori oleh Badan Pengendali Bimas yaitu bobot 1000 biji berukuran kecil apabila kurang dari 20 gr, ukuran sedang antara 20-25 gr, dan untuk ukuran besar lebih dari 25 gr.

Penentuan  Berat 1000 butir

  • Untuk  mengetahui berat setiap kelompok benih per  1000 butir benih
  • Dapat dipergunakan untuk menegtahui jumlah benih per kg dari suatu jenis yang dapat dijadikan standar dalam perencanaan kebutuhan benih untuk persemaian maupun penanaman
  • Penghitungan  dapat dilakukan melalui 2 cara (ISTA)
  • Menghitung  seluruh benih
  • Seluruh  benih murni dari analisis kemurnan dihitung  (= x butir)
  • Benih tersebut ditimbang (= Y g)
  • Berat 1000 butir = Z = 1000 x Y/x
  • Menghitung  1000 butir benih berdasarkan ulangan-ulangan,  menjadi 8 ulangan kemudian dicari koefisien  keragamannya.
  • Bila CV > 4 maka pengujian harus diulang

()

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Kadar Air

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar air,antara lain:

  • daya simpan bahan;
  • air terikat dan air bebas;
  • kadar air basis basah dan kadar air basis kering;
  • aktivitas air;
  • kelembaban mutlak dan kelembaban relatif;
  • sifat fisik dari bahan.

()

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

3.1.1 Kemurnian Benih

3.1.2 Bobot 1000 Butir

Dari hasil perhitungan berat 1000 berat biji padi maka dapat di ketahui kalau biji padi termasuk biji yang bobotnya sedang dimana berat1000 biji padi varietas inpari adalah 21, 64, dengan nilai SM= 1,335

3.1.3 Kadar Air

3.2 Pembahasan

3.2.1 Kemurnian Benih

3.2.2 Bobot 1000 Butir

3.2.3 Kadar Air

Pada praktikum kemurnian benih ini, praktikan menyiapkan benih padi sebanyak 4 kantong yang masing-masing kantong berisi 50 gr. Tiap bungkus yang berisi 50 gr benih padi ini dipisah-pisahkan dengan kategori benih murni, kotoran benih dan varietas lain. Setelah terpisah menjadi tiga kategori ini langkah selanjutnya adalah menimbang masing-masing kategori ini dengan menggunakan timbangan eletrik. Persentase dari benih murni didapatkan dari berat benih murni dibagi dengan berat awal dan dikalikan 100%.

Dari hasil pengamatan diperoleh data sebagai berikut pada benih padi ulangan 1 benih murninya 96,8%; kotoran benih 2,6% dan varietas lain 0,6%. pada benih padi ulangan 2 benih murninya 96,6%; kotoran benih 0,2% dan varietas lain 3,2%. pada benih padi ulangan 3 benih murninya 95,4%; kotoran benih 4% dan varietas lain 0,6%. pada benih padi ulangan 4 benih murninya 94%; kotoran benih 5,4% dan varietas lain 0,6%. Dari data ini dapat dilihat bahwa persentase benih murni yang paling baik terdapat pada ulangan 1.
Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk pula persentase berat dari benih-benih murni, benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba dan kotoran-kotoran pada massa benih.

Benih murni meliputi semua varietas dari setiap species yang diakui sebagaimana yang ditemukan dalam pengujian di laboratorium. Selain dari benih matang dan tidak rusak ke dalam benih murni juga termasuk juga benih yang ukurannya kurang tetapi lebih dari setengahnya dari bagian ukuran asalnya, mengkerut, kurang matang dan sudah berkecambah, dalam keadaan dapat ditentukan dengan pasti sebagai species yang diakui.
Benih varietas lain merupakan benih yang jenisnya tidak sama, misalnya benih padi dengan benih gandum, sedang yang bervarietas lain merupakan benih dari tanaman sejenis yang varietasnya berbeda, misalnya padi Serayu dengan padi Brantas.
Kotoran atau benda mati merupakan bagian dari sejumlah benih yang sedang diuji yang tidak berupa benih, melainkan benda-benda mati yang hanya mengotori benih, seperti misalnya kerikil, gumpalan tanah, sekam serta bentuk-bentuk lain yang menyerupai benih dan gulma.

Dalam pelaksanaan pengujian kemurnian ini dimana komponen-komponen telah berhasil dipisah-pisahkan, yang merupakan hasil-hasil uji benih murni, varietas lain dan benda-benda mati atau kotoran, selanjutnya masing-masing harus ditimbang dengan seksama dengan contoh kerja dalam satuan gram, dengan memperhatikan ketentuan perhitungan sebagai berikut: karena dalam praktikum ini praktikan menggunakan benih 50 gram maka setelah menghitung persentase berat dari varietas lain dan kotoran kemudian dibandingkan dengan jumlahnya terhadap berat asli maka hasil uji komponen benih murni tidak perlu ditimbang, dianggap 100%, perhitungan selanjutnya 100% minus persentase berat varietas lain dan kotoran.
Prinsip dari pengolahan benih ialah mewujudkan benih tanaman yang unggul dan baik. Apabila benih itu ditanam atau ditumbuhkan akan mampu bertahan selama perkembangan hidupnya serta mampu memberikan produk yang baik dan meningkat, dengan cara memberikan perlakuan antara lain memisahkan secara khusus benih yang kita pilih dari benih tanaman sejenis yang bervarietas lain, dari benih tanaman lain, dari biji-bijian herba, dari kotoran-kotoran yang melekat atau tercampur padanya. Jangkauan dari aktivitas ini adalah agar diperoleh benih yang benar-benar murni.

Pembersihan benih dari varietas lain dan kotoran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya mengingat antara benih yang kita maksud dengan hal-hal yang telah disebutkan itu pada dasarnya ada perbedaan fisik. Jadi tinggal ketekunan kita dalam melaksanakan cleaning tersebut. Dalam pelaksanaan pembersihan itu terdapat dua cara yaitu yang tradisional dan yang pemanfaatan mesin.
Cara tradisional ini seperti yang dilakukan oleh praktikan dalam praktikum kemurnian benih ini yaitu dengan memilah-milah benih murni, varietas lain dan kotoran dengan menggunakan tangan, jadi hanya mengandalkan indera perasa dan penglihatan saja. Cara ini banyak kelemahannya karena seperti kita ketahui kemampuan indera tiap orang berbeda-beda.

Pembersihan dengan mesin kegiatan utamanya meliputi scalping (tertuju pada material-material kasar), hulling (tertuju pada bagian-bagian yang lengket), shelling (tertuju pada pengelupasan kotoran yang ada di permukaan benih). Jadi pada dasarnya pembersihan fisik benih dari fisik kotoran dan material yang tidak diperlukan akan mengaburkan, mempengaruhi dan merusak kenurnian benih.
Pembersihan benih sangat perlu dilakukan sehubungan adanya perbedaan-perbedaan fisik dan sifat yang dapat mengaburkan kemurnian benih. Perbedaan-perbedaan seperti tekstur permukaan dan warna harus kita ambil yaitu yang menunjukkan kemurnian benih, sedang yang lainnya kita pisahkan sehingga yang tinggal menunjukkan kemurnian benih tersebut.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

  • Kemurnian benih adalah merupakan persentase berdasarkan berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih.
  • Untuk analisa kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen yaitu benih murni, benih varietas lain, dan kotoran benih.
  • Untuk analisa kemurnian benih beda antara ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 5%.
  • Dari hasil pengamatan kemurnian benih tertinggi dicapai pada benih padi ulangan 1 dimana persentase benih murni mencapai 96,8%.

4.2 Saran

Sebaiknya dalam praktikum…….

 

DAFTAR PUSTAKA

Justice, O. L. dan Bass, L. N. 1994. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Direktorat Jendral Tanaman Hortikultur Departemen Pertanian. 2006. Pedoman Laboratorium Tanaman Pangan dan

Hortikultur.

Direktorat Jendral Tanaman Pangan. 2005. Evaluasi Kecambah Pengujian Daya Kecambah. Depok . Jawa barat

Direktorat pembenihan tanaman hutan. 2002. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik – Fisiologi Benih. Jakarta

Heddy, G. 1990. BIologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Hidayat, E. B. 1995. Anatomi tumbuhan berbiji. ITB. Bandung
Kartasapoetra, A. G. 2003. Teknologi Benih Pengelolaan Benih dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta. Jakarta

Tortora, G. J. 1987. Principles of Anatomy and Physiologi. New York. Harper and Row

Yandiant. 2003. Bercocok Taanam Padi. Penerbit M2S. Bandung.
Wiryani. 1967. Padi. Rinjani. Solo

Jangan sia-siakan waktumu…

Agenda Hari ini

October 2014
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Request N Comments

Silakan request laporan yang kamu butuhkan sapa tau aku punya yang kamu mau... :-) N jangan lupa ya comments-nya...mungkin aku bisa membenahinya kalo ada waktu...he..he..

Chat & Sharing yuk…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.